EBOOK REFRAIN WINNA EFENDI PDF

Yang ada hanya orang-orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya. Ini bisa jadi sebuah kisah cinta biasa. Sayangnya, di setiap cerita harus ada yang terluka. Ini barangkali hanya sebuah kisah cinta sederhana. Tentang tiga sahabat yang merasa saling memiliki meskipun diam-diam saling melukai. Ini kisah tentang harapan yang hampir hilang.

Author:Shakagis Molmaran
Country:Dominican Republic
Language:English (Spanish)
Genre:Life
Published (Last):14 February 2010
Pages:227
PDF File Size:14.85 Mb
ePub File Size:1.87 Mb
ISBN:446-4-53057-206-9
Downloads:36151
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Zugrel



Niki tidak sadar sudah berapa lama bunyi yang tidak asing itu terdengar. Ketika mendongak, dia melihat sosok seseorang dengan senyum pengertian yang membuatnya ingin menangis lagi. Mengapa Nata ada di sini? Bagaimana Nata bisa tahu? Tapi, dia merasa begitu lega melihatnya.

Melihat sahabatnya datang untuk menyelamatkannya. Ia ingin memeluknya dan melindunginya sepenuh hati, tapi untuk sesaat dia hanya bisa memandang dan menunggu.

Kenangan perlahan-lahan muncul di benaknya seperti rekaman video. Wajah anak perempuan yang tersenyum lebar, memperlihatkan gigi-giginya yang ompong. Kali ini, adalah gilirannya menemukan dan melindungi Niki. Niki menatapnya dengan air mata masih mengaliri kedua sisi wajahnya, bibirnya bergetar dan matanya sembab. Nata tersenyum, lalu menarik gadis itu berdiri. Awalnya tangan Niki masih dengan tentatif berpegangan pada tempat duduknya, lalu lama-kelamaan, melingkari pinggang Nata seperti yang selama ini selalu dilakukannya.

Nata mengayuh lambat-lambat, angin menerpa wajahnya dan temaram lampu menerangi jalannya. Ia merasakan punggungnya basah, dan pelukan pada pinggangnya mengerat. Nata mencengkeram setang sepedanya erat-erat, mencoba menahan gejolak emosi yang meluap dan membuatnya ingin melampiaskannya kepada siapa pun yang sudah melukai Niki. Lo aman di sini Ki, bersama gue. Entah sudah berapa lama Nata mengayuh, sampai ia berhenti di depan rumahnya. Nata tahu apa yang akan dilakukannya—mengucapkan terima kasih sambil memaksakan senyum.

Keesokan harinya, mereka akan kembali menjadi dua orang asing yang berpura-pura seakan kejadian malam ini tidak pernah ada. Nata mengangguk. Kain elastis trampolin itu berguncang mengikuti berat badan mereka. Niki mengangguk samar. Kenapa kita harus berbasa-basi, nggak bisa lagi ngomong jujur apa yang ada di pikiran kita?

Mereka berdua sama-sama tahu jawabannya. Persahabatan bukan didasari oleh gender, usia, motif, atau apa pun itu. Persahabatan yang tulus gak harus punya alasan. Sejak dulu, aku selalu mengharapkan bentuk cinta yang sempurna. Aku baru sadar, nggak ada yang sempurna di dunia ini. Teman sejati adalah orang-orang yang bisa nerima aku apa adanya, seperti kamu dan Anna. Aku yang udah ngecewain kalian, maaf ya. Nata berusaha tampak tak acuh, tapi dia tahu dia tidak bisa menghentikan senyum yang kini bermain bebas di wajahnya.

Untuk pertama kalinya malam ini, Nata memperhatikan Niki dalam balutan gaun yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya—berbahan halus, sebatas lutut, dipenuhi dengan potongn renda-renda. Jalinan rambutnya sudah terlepas, riasan ringan di wajahnya berantakan dan ada bekas-bekas air mata di sana, namun di matanya, Niki terlihat sangat cantik. Nata tidak pernah memuji penampilannya, tidak pernah memperhatikan gaya berpakaian perempuan apalagi berkomentar mengenainya.

Wajah Nata merah padam selagi mengatakannya, dan Niki merasakan senyumnya mengembang, perasaannya jauh lebih ringan, seolah-olah beban berat telah terangkat. Nata mengalas kepalanya dengan sebelah lengan, dan Niki mengandarkan kepalanya pada bahu pemuda itu, mengenakan sweatshirt sahabatnya yang kebesaran.

Setidaknya, jika dia bersua dengan pemuda itu secara tidak sengaja, dia yakin dia akan segera berjalan menjauh ke arah yang berlawanan, sebisa mungkin menghindari kontak apa pun.

Hubungan mereka sudah selesai, diputuskan sebelah pihak. Namun, sampai sekarang, Niki masih belum bisa melupakan kejadian malam itu. Karena itulah, ketika Niki menemukan pemuda itu berdiri di depan pintu rumahnya, dia ingin segera membanting pintu dan berlari ke kamarnya. Tapi bersembunyi, menghindar, dan berlari adalah hal-hal yang sudah terlalu sering dilakukannya; terhadap Nata, terhadap Annalise, terhadap dirinya sendiri.

Dia tidak ingin mengakhirinya seperti ini, membiarkan kata-kata belum selesai terucapkan, lalu menyesalinya kemudian.

Jadi Niki memaksakan diri untuk memandangnya dan bertanya apa yang dia inginkan. Niki merasakan hatinya berdegup kencang, seperti yang selalu dirasakannya saat berada di dekat Oliver. Diam-diam, dia membenci dirinya sendiri karena masih merasa seperti itu. Dia pun sudah tahu mengapa. Tapi, ternyata lebih sulit—lebih menyakitkan, untuk mendengarnya langsung.

Tapi, aku nggak bisa Akhirnya, Helena pun bohong mengenai kepulangan Zahra. Dia merencanakan semua ini untuk membodohi kita. Buat apa? Dia atlet renang sekolah, juga juara lomba Matematika. Aku selalu bilang kalau mereka nggak akan bisa sembunyi-sembunyi seperti itu, tapi Zahra nggak peduli. Sampai suatu hari, hubungan mereka ketahuan. Sejak saat itu, Zahra nggak mau lagi menemui aku. Dia nggak mau membalas e-mail dan teleponku.

Kami nggak pernah ketemu lagi, tapi aku nggak bisa ngelupain dia. Aku bener-bener senang setiap kali menghabiskan waktu bersama kamu, dan kukira aku bisa menyayangi kamu Kuharap kamu nggak menganggap aku orang yang jahat.

Hanya dirinya yang sudah bodoh dan berharap lebih. Niki dan Oliver sedang berada di sana, berdiri berhadapan dengan bahasa tubuh yang kaku. Nata menghentikan sepedanya tanpa suara dan memperhatikan mereka dari kejauhan. Niki selalu membuat ekspresi dan gestur seperti itu jika dia menangis.

Untuk sesaat, dia memejamkan mata, menunggu kepalan tangan itu mendarat di sisi wajahnya, tetapi dirasakannya tekanan pada cekalan tangan Nata meringan dan akhirnya melonggar. Nata sedang menatapnya dengan marah—itu satu-satunya adjektif yang tepat untuk menjelaskannya.

Nata mengusap keringat dengan sebelah tangan, matanya tidak meninggalkan Oliver. Lo nggak akan seperti pengecut ngikutin semua omongan Helena dan ninggalin Niki sendirian di sana. Air mata masih mengaliri wajahnya, tidak bisa berhenti walaupun dia berusaha sebisa mungkin untuk menghentikannya.

Tapi bagaimana dengan sakit hatinya sendiri? Niki mengangkat kepala dan melihat Annalise sedang berdiri di sana, memegang kameranya dan segulung rol film. Sudah lama sekali Niki tidak melihat Annalise, raut wajahnya yang khawatir jika salah satu di antara dirinya atau Nata sedang dilanda masalah.

Annalise beranjak maju, dan tanpa ragu, melingkarkan kedua tangannya pada bahu Niki serta menariknya dalam pelukan. Niki tersedu-sedu di sana, dan Anna memeluknya dalam diam, tidak memerlukan jawaban, penjelasan, apa pun, hanya ada di sana untuknya.

Nata beraroma susu dan keringat, bau yang sangat menenangkan. Perlahan, air mata Niki mengering dan dia merasa jauh lebih tenang.

Niki ternganga kaget. Mereka tertwa bersama, tangan saling terpaut. Hal ini membuat jadwal latihan cheers semakin berkurang, dan Niki bersyukur untuk itu. Kini, dia tidak lagi bertegursapa dengan Helena. Terkadang, jika berpapasan dengan sesama cheerleader, mereka akan tersenyum sekilas pada Niki, tetapi tidak pernah benar-benar memulai percakapan seperti yang dulu mereka lakukan.

Awalnya Niki merasa tidak nyaman, seperti kehilangan teman dekat, tapi dia akhirnya sadar, bahwa sebenarnya teman-teman itu tidak pernah menjadi miliknya. Bukankah lucu jika persahabatan harus memiliki sebuah alasan? Lebih lucu lagi karena sebuah hubungan pertemanan bisa putus begitu saja hanya karena alasan itu sudah tidak lagi eksis. Niki merasa sedih jika memandang murid-murid perempuan berseragam cheers sedang berkumpul di sudut ruangan, tertawa-tawa tanpa dirinya.

Keluar begitu saja, dengan alasan tidak tahan diperlakukan seperti orang asing, dan merasa tidak lagi diterima di sana. Jika dia sudah kehilangan teman-temannya, dia tidak ingin kehilangan cheers juga. Tepat setahun yang lalu, acara inilah yang mempertemukan Niki dengan Oliver. Niki melakukan gerakan rutin yang sudah dilatihnya tanpa semangat. Kenangan-kenangan itu terasa masih mentah dalam benaknya. Hanya saja, hari ini dia tidak merasa menang.

Air mata kini berbaur dengan air dingin, mengguyur wajahnya yang kotor oleh keringat dan debu. Helena memutar keran, berharap dentuman air menyembunyikan isakannya supaya tidak terdengar oleh siapa pun. Dia selalu menunggu hingga anggota cheers lain sudah pulang sebelum menyelinap ke dalam ruang ganti untuk membersihkan diri,karena dia merasa tidak nyaman bertukar pakaian di tengah orang-orang yang tidak bersahabat dengannya. Dengan tentatif, ia menghampiri kubikel yang tertutup oleh tirai plastik, mengulurkan tangan untuk menyibakkannya, tapi lalu berubah pikiran dan memutuskan untuk menunggu, menemani siapa pun yang ada di sana hingga tangisannya mereda.

Helena keluar dengan rambut basah, tetapi yang mengejutkan Niki adalah betapa pias wajahnya, bibirnya pucat dan kedua matanya merah. Dia belum pernah melihat Helena terlihat rapuh—sama sekali. Helena selalu terlihat composed, percaya diri, penuh otoritas. Mereka sama-sama tidak pernah menanyakannya kepada satu-sama lain, mungkin karena mereka tidak pernah menjadi seakrab itu untuk saling memperlihatkan sisi rapuh masing-masing.

CATEYE CORDLESS 2 PDF

EBook Gratis

.

GUIA DEL RADIOAFICIONADO PRINCIPIANTE PDF

Refrain By Winna Efendi Pdf

.

EL LIBRERO DE KABUL PDF

Refrain (2009)

.

W7NA80 PDF

Melbourne: Rewind by Winna Efendi

.

Related Articles