GLOMERULONEFRITIS AKUT PASCA STREPTOKOKUS PDF

Yocage Turn recording back on. Journal of the American Society of Nephrology. The current spectrum of infectious glomerulonephritis. Pulmonary edema may complicate the clinical course and should be treated with oxygen, loop diuretics, and rotating tourniquets. Hemodialysis and peritoneal dialysis may also be required to treat azotemia, hyperkalemia, or severe circulatory congestion.

Author:Maukus Shaktijas
Country:Belgium
Language:English (Spanish)
Genre:Health and Food
Published (Last):14 June 2007
Pages:16
PDF File Size:6.61 Mb
ePub File Size:17.20 Mb
ISBN:348-7-97622-637-5
Downloads:61922
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Miramar



Peradangan pada ginjal ini mempunyai efek terhadap mekanisme imunologi terkait infeksi bakteri streptokokus beta hemolitikus grup A tipe nefriogenik yang masuk dalam fase hematogen akibat dari pengobatan tidak adekuat pada penyakit Faringitis, tonsillitis ataupun penyakit dermatitis lainnya.

Dengan ciri awitan klinis sindroma nefritik yang berupa kumpulan sindrom meliputi : gross hematuria kencing darah , edema sembab , hipertensi dan kegagalan ginjal akut. Sekarang di Indonesia yang merupakan Negara berkembang, kasus Glomerulonefritis akut pasca streptococcus GNAPS masih dalam angka tinggi dan terbanyak untuk kasus kelainan ginjal akut pada anak-anak.

Rentang umur untuk infeksi GNAPS adalah tahun atau masa-masa sekolah dan anak laki-laki lebih dominan untuk terinfeksi. Dimana pasa masa ini higienitas, kebersihan dan perilaku hidup sehat belum tersentuh atau diajarkan secara adekuat. Iklim pun berpengaruh terhadap infeksi GNAPS dimana iklim tropis dianggap pas dan cocok untuk pertumbuhan dari streptococcus. Faktor genetik mempengaruhi pathogenesis dari infeksi streptococcus terhadap tubuh seorang manusia dimana dalam tes laboratrium ditemukan peran dari HLA-D dan HLA-DR sehingga menunjukkan perubahan pada masa laten dengan kelainan pada membrane basal glomerulus pada proses imunologis.

Diduga respons yang berlebihan dari sistim imun pejamu terhadap stimulus antigen sehingga terbentuklah kompleks antibody-antigen ab-ag yang akan melintasi membrane basal glomerulus. Dari sinilah terdapat aktivasi sistim komplemen yang melepas substansi yang akan menarik neutrophil. Enzim lisosom yang dilepas oleh neutrophil akan lebih berespons responsive untuk merusak.

Teori hipotesis lainnya akibat neuramidase yang dihasilkan streptococcus akan mengubah IgG endogen menjadi autoantigen akibatnya terjadi pembentukan autoantibodi terhadap IgG yang berubah tersebut, mengakibatkan pembentukan kompleks imun bersirkulasi kemudian mengendap dalam ginjal. Pada kasus glomerulonephritis ringan ditemukan secara mikroskopis berupa proliferasi ringan sampai sedang pada sel mesangial dan matriks.

Pada kasus berat akan ditemukan proliferasi sel mesangial, matriks dan sel endotel yang difus disertai juga sel polimorfonukleat dan monosit serta ada penyumbatan lumen kapiler. Endapan immunoglobulin dalam kapiler glomerulus didominasi oleh IgG dan sebagai jumlah kecil IgM atau IgA yang dapat dilihat melalui mikroskop immunoflourensi.

Sedangkan pasa mikroskop electron ditemukan deposit padatan elektron atau humps terletak di daerah subepitelial yang khas dan akan beragregasi menjadi Ag-Ab kompleks. Dimana kasus klasik terdapat sebelumnya mengalami infeksi napas atau dengan nyeri tenggorok dua minggu mendahului timbulnya sembab.

Periode laten setelah terinfeksi pada nyeri tenggorokan dan infeksi kulit. Variasi lain tidak spesifik seperti : demam, malaise, nyeri, penurunan nafsu makan, nyeri kepala atau lesu. Pada pemeriksaan fisik ditemukan hipertensi pada pasien GNAPS mulai dari ringan hingga sedang, dengan ciri khas akan meninggi pada hari dan akan turun perlahan-lahan minggu. Edema bisa berupa wajah sembab, mulai dari daerah orbita mata dan bagian kaki pretibial.

Bendungan sirkulasi secara klinis bisa nyata dengan takipne dan dyspnea. Pemeriksaan Penunjang GNAPS Dalam pemeriksaan Laboratrium dapat ditemukan sebagai berikut : Pemeriksaan urin ditemukan volume berkurang dengan warna gelap atau kecoklatan seperti air cucian daging segar.

LFG berkurang disertai kapasitas ekskreasi air dan garam menyebabkan ekspansi volume cairan ekstraseluler. Anemia akan hilang jika sembab edema juga hilang serta berkorelasi pada volume cairan dan urin dan beberapa penelitian menyatakan bahwa masa hidup eritrosit berkurang akibat perubahan serum protein dan pengaturan hormone.

Uji kultur dan biakan menjadi gold standar, didukung dengan ditemukan uji serologi respons imun terhadap antigen streptococcus. Perawatan dibutuhkan apabila dijumpai penurunan fungsi ginjal sedang sampai berat klirens kreatinin 50 mg, anak dengan tanda dan gejala uremia, muntah, letargi, hipertensi ensefalopati, anuria atau oliguria menetap.

Pasien hipertensi dapat diberi diuretik atau anti hipertensi. Bila hipertensi ringan tekanan darah sistolik mmHg dan diastolik 90 mmHg umumnya diobservasi tanpa diberi terapi. Dalam prakteknya lebih baik merawat inap pasien hipertensi hari daripada memberi anti hipertensi yang lama. Retensi cairan ditangani dengan pembatasan cairan dan natrium. Pemakaian antibiotik tidak mempengaruhi perjalanan penyakit. Namun, pasien dengan biakan positif harus diberikan antibiotic untuk eradikasi organisme dan mencegah penyebaran ke individu lain.

Diberikan antimikroba berupa injeksi benzathine penisilin Pembatasan bahanmakanan tergantung beratnya edem, gagal ginjal, danhipertensi. Bila disertai oliguria, maka pemberian kalium harus dibatasi. Penanganannya sama dengan GGA dengan berbagai penyebab dan jarang menimbulkan kematian.

Baca juga:.

KERATINOPHILIC FUNGI PDF

Glomerulonefritis Akut Pasca Infeksi Streptococcus Pada Anak

.

JBL 2033H PDF

.

ANTHILLS OF THE SAVANNAH THEMES PDF

.

Related Articles