KITAB AYYUHAL WALAD PDF

Kitab tersebut mengandung nasehat-nasehat yang ditulis Imam al-Ghazali untuk para santrinya. Awal mulanya Imam al-Ghazali menulis kitab Ayyuhal Walad adalah karena salah seorang santrinya meminta dituliskan nasehat dan petuah yang kelak dapat bermanfaat baginya dan menjadi pedomannya sepanjang hayat. Pada muqadimah kitab Ayyuhal Walad, diceritakan bahwa dahulu kala ada seorang santri Imam al-Ghazali yang mengabdi dan berkhitmah kepada beliau. Ia dengan tekun dan sabar menuntut ilmu dari Imam al-Ghazali sehingga menguasai secara mendalam berbagai ilmu yang tidak diketahui orang awam pada umumnya dan memiliki kekuatan jiwa di atas rata-rata santri biasa.

Author:Dizilkree Kizragore
Country:Burma
Language:English (Spanish)
Genre:Personal Growth
Published (Last):14 August 2013
Pages:259
PDF File Size:2.40 Mb
ePub File Size:11.50 Mb
ISBN:992-4-54617-846-5
Downloads:81280
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Nazil



Itu semua diawali dengan pembenahan kon sep keilmuan dan pendidikan. Setelah mengembara dan melakukan perenungan yang mendalam atas kondisi umat Islam, Al-Ghazali berusaha memperbaiki kondisi umat, dengan ke daerah kela hirannya, Thus, untuk membangun ma dra sah. Materi paling utama yang disampaikan di madrasah ini adalah tazkiyatun nafs, penyucian diri. Bagian paling utama dari tazkiyatun nafs adalah meluruskan pandangan seorang Muslim terhadap ilmu dan membangkitkan budaya ilmu.

Madrasah Al-Ghazali berkembang pesat. Murid-muridnya datang dari berbagai negeri. Setelah lulus, mereka kembali ke daerah asal masing-masing dan membangun madrasah serupa. Dari situlah kemudian muncul jaringan madrasah Al- Ghazali.

Hasilnya, 88 tahun setelah kekalahan telak umat Islam pada Perang Salib periode pertama , lahirlah generasi Shalahuddin. Mereka adalah alumni jaringan madrasah Al-Ghazali. Ia telah menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam ber-mula zamah dengan gurunya itu.

Berbagai jenis ilmu telah diwarisinya. Meski demikian, ia be lum puas. Saat hendak meninggalkan Sang Guru, murid itu datang meminta nasihat. Inilah contoh adab murid kepada guru. Tujuannya agar selalu ingat dengan nasihat gurunya. Al-Ghazali berkenan mengabulkan permintaan murid kesayangannya tersebut. Ia menuliskan baris-baris nasihatnya sehingga menjadi sebuah buku kecil. Kalimat itu menunjukkan betapa akrabnya hubungan antara murid dan gu ru, seperti hubungan antara anak dan ba pak.

Lantas, siapakah nama murid yang karenanya Kitab Ayyuhal Walad itu di tulis? Nama murid yang berjasa bagi mun culnya kitab Ayyuhal Walad ini me mang tidak diketahui. Jadi, ia adalah pahlawan tak dikenal. Melalui dirinyalah, umat Islam hari ini bisa mengambil manfaat dari Kitab Ayyuhal Walad. Al-Ghazali mengawali nasihatnya dengan kalimat yang sangat indah.

Ia me manggil muridnya dengan panggilan penuh simpati juga mendoakannya. Se moga Allah memanjangkan usiamu agar bisa mematuhi-Nya. Semoga pula Allah memudahkanmu dalam menempuh jalan orang-orang yang dicintai-Nya. Kalimat ini menjadikan orang yang diberi nasihat merasa tenang dan percaya kepada pem beri nasihat. Ini pun membuka sekat emosi antara guru dan murid. Guru memandang murid seperti anaknya sendiri yang harus disayangi.

Sementara itu, murid memandang guru seperti orang tuanya sendiri yang harus dihormati. Setelah memanggil dengan sebutan yang melahirkan ketenangan hati bagi muridnya, Al-Ghazali mendoakan muridnya dengan doa mengenai perkara mulia yang manusia selalu mengharapkannya, yaitu diberi usia yang panjang.

Bukan sekadar panjang usia, Sang Imam mendoakan muridnya agar usia yang panjang itu bisa digunakan untuk mematuhi perintah- perintah Allah. Itulah usia yang penuh berkah. Selanjutnya, Al-Ghazaly mendoakan muridnya agar Allah memudahkannya dalam menempuh jalan orang-orang yang dicintai-Nya.

Jalan itu adalah jalan Islam, yaitu jalan yang ditempuh oleh orangorang yang Allah anugerahi nikmat. Agar bisa menempuh jalan tersebut, murid itu wajib bergaul dengan mereka. Hargailah waktu! Setelah mendoakan muridnya, Al- Ghazali mengingatkan bahwa nasihat yang akan ia sampaikan bukanlah sesuatu yang baru. Apabila seseorang kehilangan usianya sesaat saja untuk sesuatu di luar tujuan ia diciptakan, yaitu untuk beribadah, sungguh ia layak mengalami penyesalan yang berkepanjangan.

Barang siapa usianya telah melewati 40 tahun, namun kebaikannya belum mampu mendominasi keburukannya, bersiap-siaplah ia masuk neraka. Orang yang menyia-nyiakan waktu akan men derita penyesalan yang berke panjangan. Ketentuan ini memang tidak mutlak. Ada saja orang yang baru mendapat hidayah pada saat usianya sudah lebih dari 40 tahun.

Akan tetapi, umumnya orang yang sudah berusia 40 tahun atau lebih cenderung sulit menerima hal-hal baru. Apabila telah terbiasa dengan penyimpangan dan keburukan, ia akan sulit diluruskan dan diminta meninggalkan keburukannya. Mengapa demikian? Karena pada usia 40 tahun pemikiran dan sikap manusia telah matang dan kokoh, entah matang dan kokoh dalam kebaikan atau matang dan kokoh dalam keburukan.

Nasihat itu mudah. Yang sulit adalah menerimanya. Sebab, ia terasa pahit bagi orang-orang yang mengikuti hawa nafsu karena hal-hal yang dilarang agama sangat disenangi hati mereka. Terkhusus bagi orang yang mencari ilmu rasmi serta sibuk menunjukkan kehebatan dirinya dan mencari kemewahan duniawi.

Orang itu menyangka bahwa ilmu yang tidak diamalkan akan menjadi sarana bagi keselamatan dirinya. Oleh karena itu, ia tidak perlu mengamalkan ilmunya. Pertama, sesuatu yang disebut ilmu sebatas tulisan dan nama, seperti filsafat.

Kedua, ilmu yang diperoleh sebatas karena kebiasaan; bukan dengan maksud untuk diamalkan. Ketiga, ilmu yang sebenarnya bermanfaat, tapi menjadi tidak bermanfaat karena pemiliknya tidak mau mengamalkan tuntutan ilmu itu. Al-Ghazali kemudian mengingatkan bahwa ilmu yang tidak diamalkan hanya akan menjadi bencana bagi pemiliknya.

Tanda tidak bermanfaatnya ilmu seseorang adalah ketika ilmu itu tidak diamalkan. Ibarat manusia, ilmu yang tidak diamalkan adalah manusia tanpa pakaian. Manusia yang berjalan di tempat umum tanpa mengenakan pakaian tentu akan dikatakan sebagai orang gila dan orang tidak normal. Begitu pula ilmu. Ilmu tanpa amal adalah ilmu tidak normal.

Sebab, amal adalah pakaian bagi ilmu. Ilmu tanpa amal hanya membawa ben cana bagi pemiliknya. Oleh karena merasa diri nya berilmu, orang yang mengum pul kan ilmu tanpa disertai amal akan sulit menerima nasihat, terlebih jika nasihat itu datang dari orang yang secara level berada di bawahnya.

Mengapa ia sulit menerima nasihat? Karena menerima nasihat adalah bagian dari amal, bahkan menjadi pem buka bagi amal-amal lainnya. Sementara itu, orang tadi terbiasa tidak mengamalkan ilmunya. Jangan lah jadi orang yang bangkrut amalnya! Jangan pula jadi orang yang hampa hati nya!

Yakinlah bahwa ilmu tanpa amal itu tidak akan mendatangkan manfaat. Ilus trasinya sebagai berikut. Ada orang di pa dang pasir membawa 10 pedang dari India beserta senjata lainnya.

Orang itu dikenal pemberani dan ahli strategi perang. Tibatiba datanglah seekor singa besar yang me na kutkan. Bagaimana pendapatmu? Apa kah senjata-senjata tadi mampu melin dungi nya dari terkaman singa tanpa menggunakannya atau memukulkannya? Sudah dapat diketahui, senjata-senjata tadi tidak dapat melindunginya kecuali dengan meng gerakkan atau memukulkannya.

De mikian pula, jika seseorang membaca sera tus ribu masalah ilmiah yang ia keta hui dan pelajari, tapi tidak mengamalkannya. Ilmunya yang banyak itu tidak akan memberinya manfaat kecuali dengan mengamalkannya.

Ilustrasi lain dari Sang Imam adalah sebagai berikut. Ada orang menderita sakit panas atau sakit kuning. Orang tersebut hanya bisa sembuh dengan mengonsumsi keduanya. Se orang Mukmin tidak akan merasakan lezatnya iman kecuali apabila melaksanakan apa yang menjadi hak Allah dan hak hamba-hamba Allah. Betapa indahnya jika isi Kitab Ayyuhal Walad ini ditanamkan—bukan sekadar diajarkan—pada anak-anak sedini mung kin, baik di rumah, sekolah, pesantren, maupun masjid.

InsyaAllah, anak-anak akan menjadi manusia yang haus ilmu dan cinta amal saleh.

KOOS EISSEN SKETCHING PDF

Download Terjemah Ayyuhal Walad Karya Imam Ghazali

Itu semua diawali dengan pembenahan kon sep keilmuan dan pendidikan. Setelah mengembara dan melakukan perenungan yang mendalam atas kondisi umat Islam, Al-Ghazali berusaha memperbaiki kondisi umat, dengan ke daerah kela hirannya, Thus, untuk membangun ma dra sah. Materi paling utama yang disampaikan di madrasah ini adalah tazkiyatun nafs, penyucian diri. Bagian paling utama dari tazkiyatun nafs adalah meluruskan pandangan seorang Muslim terhadap ilmu dan membangkitkan budaya ilmu.

IBAG SPINDLE PDF

Kitab Ayyuhal Walad: Kumpulan Nasehat Imam Al-Ghazali untuk Para Santrinya

Tweet Imam Ghazali merupakan salah ulama sunni yang tergolong sangat produktif, banyak sekali karyanya menjadi inspirasi dan bahan kajian hingga saat ini. Selain dibidang Ushul Fiqih, Karyanya juga tersebar ke berbagai fan ilmu pengetahuan, seperti tashawwuf, Filsafat, Fikih bahkan dalam dunia pendidikan. Baca Selengkapnya : Download Kumpulan Kitab Imam Ghazali Gratis Dan diantara kitab karya beliau yang banyak sekali dikaji diberbagai lembaga pondok pesantren adalah kitab "Ayyuhal Walad" Wahai Anakku , sebuah kitab yang didalamnya berisi tentang konsep pendidikan dan interaksi seorang murid dngan guru. Menarik untuk dikaji, sebab salah satu PR terbesar bangsa dan peradaban dunia dalam bidang pendidikan saat ini adalah "Pendidikan Karakter" itu sendiri. Tertarik Membacanya? Namun mungkin anda akan kesulitan jika membaca kitab aslinya dengan teks arab, oleh sebab itu disini kami akan berbagi buku terjemahannya untuk anda.

HEROQUEST GLORANTHA PDF

Terjemah Ayyuhal Walad - Imam Ghazali

Kitab Ayyuhal Walad ini ditulis oleh Imam al-Ghazali r. Dalam surat tersebut murid beliau meminta agar Imam al-Ghazali r. Lalu Imam al-Ghazali dengan murah hati menjawab surat muridnya dan memberikan kepadanya beberapa nasihatyang sangat mahal harganya. Apabila kita cuba meneliti kandungan surat Imam al-Ghazali r. Kita juga melihat kasih sayang Imam al-Ghazali terhadap muridnya, lalu beliau membawakan nasihat ini dalam bahasa yang halus, yang menyentuh hati nurani kita dan terkadang dapat mengalirkan air mata dan memberikan kesan yang sangat mendalam sekali, sehingga membawa kepada suatu perubahan dalam kehidupan kita. Maka telah berhimpunlah dalam nasihat Imam al-Ghazali ini keindahan keikhlasan dan keindahan bahasa.

Related Articles