LAPORAN PENDAHULUAN CHOLELITHIASIS PDF

Usia : Setelah 20 tahun, kecepatan pembentukan batu empedu meningkat setiap dekade. Jumlah kolesterol dalam empedu yang seharusnya meningkat dengan usia,hal ini disebabkan oleh dislipoproteinemia yang menghasilkan peningkatan linier dalam ekskresi kolesterol ke dalam empedu dan dengan sintesis asam empedu berkurang karena aktivitas menurun dari enzim kolesterol 7-hidroksilase CYP7A1. Hemoperfusi dari dinding kantung empedu menurun dengan usia karena karena adanya perubahan sklerotik. Hal ini memberikan kontribusi terhadap disfungsi kantung emdpedu, infeksi, dan peradangan dengan eksudasi ke dalam lumen organ. Gender : jenis kelamin perempuan adalah faktor risiko secara umum penyakit batu empedu.

Author:Samusho Tojacage
Country:Brazil
Language:English (Spanish)
Genre:Photos
Published (Last):11 November 2009
Pages:456
PDF File Size:19.36 Mb
ePub File Size:18.9 Mb
ISBN:863-9-21753-681-2
Downloads:42883
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Mujinn



Etiologi Etiologi batu empedu masih belum diketahui secara pasti, adapun faktor predisposisi terpenting, yaitu : gangguan metabolisme yang menyebabkan terjadinya perubahan komposisi empedu, statis empedu, dan infeksi kandung empedu. Perubahan komposisi empedu kemungkinan merupakan faktor terpenting dalam pembentukan batu empedu karena hati penderita batu empedu kolesterol mengekresi empedu yang sangat jenuh dengan kolesterol.

Kolesterol yang berlebihan ini mengendap dalam kandung empedu dengan cara yang belum diketahui sepenuhnya untuk membentuk batu empedu. Statis empedu dalam kandung empedu dapat mengakibatkan supersaturasi progresif, perubahan komposisi kimia, dan pengendapan unsur-insur tersebut. Gangguan kontraksi kandung empedu atau spasme spingter oddi, atau keduanya dapat menyebabkan statis.

Faktor hormonal hormon kolesistokinin dan sekretin dapat dikaitkan dengan keterlambatan pengosongan kandung empedu. Infeksi bakteri dalam saluran empedu dapat berperan dalam pembentukan batu. Infeksi lebih timbul akibat dari terbentuknya batu ,dibanding penyebab terbentuknya batu. Patofisiologi Sebagian besar batu empedu terbentuk di dalam kandung empedu dan sebagian besar batu di dalam saluran empedu berasal dari kandung empedu.

Batu empedu bisa terbentuk di dalam saluran empedu jika empedu mengalami aliran balik karena adanya penyempitan saluran atau setelah dilakukan pengangkatan kandung empedu. Batu empedu di dalam saluran empedu bisa mengakibatkan infeksi hebat saluran empedu kolangitis , infeksi pankreas pankreatitis atau infeksi hati. Jika saluran empedu tersumbat, maka bakteri akan tumbuh dan dengan segera menimbulkan infeksi di dalam saluran.

Bakteri bisa menyebar melalui aliran darah dan menyebabkan infeksi di bagian tubuh lainnya. Sebagian besar batu empedu dalam jangka waktu yang lama tidak menimbulkan gejala, terutama bila batu menetap di kandung empedu.

Kadang-kadang batu yang besar secara bertahap akan mengikis dinding kandung empedu dan masuk ke usus halus atau usus besar, dan menyebabkan penyumbatan usus ileus batu empedu. Yang lebih sering terjadi adalah batu empedu keluar dari kandung empedu dan masuk ke dalam saluran empedu. Dari saluran empedu, batu empedu bisa masuk ke usus halus atau tetap berada di dalam saluran empedu tanpa menimbulkan gangguan aliran empedu maupun gejala.

Sekresi kolesterol berhubungan dengan pembentukan batu empedu. Pada kondisi yang abnormal, kolesterol dapat mengendap, menyebabkan pembentukan batu empedu. Berbagai kondisi yang dapat menyebabkan pengendapan kolesterol adalah : terlalu banyak absorbsi air dari empedu, terlalu banyak absorbsi garam- garam empedu dan lesitin dari empedu, terlalu banyak sekresi kolesterol dalam empedu.

Jumlah kolesterol dalam empedu sebagian ditentukan oleh jumlah lemak yang dimakan karena sel-sel hepatik mensintesis kolesterol sebagai salah satu produk metabolisme lemak dalam tubuh. Untuk alasan inilah, orang yang mendapat diet tinggi lemak dalam waktu beberapa tahun, akan mudah mengalami perkembangan batu empedu.

Batu kandung empedu dapat berpindah kedalam duktus koledokus melalui duktus sistikus. Didalam perjalanannya melalui duktus sistikus, batu tersebut dapat menimbulkan sumbatan aliran empedu secara parsial atau komplet sehingga menimbulkan gejalah kolik empedu. Kalau batu terhenti di dalam duktus sistikus karena diameternya terlalu besar atau tertahan oleh striktur, batu akan tetap berada disana sebagai batu duktus sistikus.

Kolesterol yang merupakan unsur normal pembentuk empedu bersifat tidak larut dalam air. Kelarutannya tergantung pada asam-asam empedu dan lesitin fosfolipid dalam empedu. Pada pasien yang cenderung menderita batu empedu akan terjadi penurunan sintesis asam empedu dan peningktan sintesis kolesterol dalam hati, keadaan ini mengakibatkan supersaturasi getah empedu oleh kolesterol yang kemudian keluar getah empedu, mengendap, dan membentuk batu.

Getah empedu yang jenuh oleh kolesterol merupakan predisposisi untuk timbulnya batu empedu dan berperan sebgai iritan yang menyebabkan peradangan dalam kandung empedu. Batu pigmen dapat dibagi kepada 2, yaitu : a. Batu kalsium bilirunat pigmen coklat Berwarna coklat atau coklat tua, lunak, mudah dihancurkan dan mengandung kalsium-bilirubinat sebagai komponen utama.

Batu pigmen cokelat terbentuk akibat adanya faktor stasis dan infeksi saluran empedu. Stasis dapat disebabkan oleh adanya disfungsi sfingter Oddi, striktur, operasi bilier, dan infeksi parasit. Bila terjadi infeksi saluran empedu, khususnya E. Coli, kadar enzim B-glukoronidase yang berasal dari bakteri akan dihidrolisasi menjadi bilirubin bebas dan asam glukoronat. Kalsium mengikat bilirubin menjadi kalsium bilirubinat yang tidak larut.

Dari penelitian yang dilakukan didapatkan adanya hubungan erat antara infeksi bakteri dan terbentuknya batu pigmen coklat. Umumnya batu pigmen cokelat ini terbentuk di saluran empedu dalam empedu yang terinfeksi. Batu pigmen hitam Berwarna hitam atau hitam kecoklatan, tidak berbentuk, seperti bubuk dan kaya akan sisa zat hitam yang tak terekstraksi. Batu pigmen hitam adalah tipe batu yang banyak ditemukan pada pasien dengan hemolisis kronik atau sirosis hati dengan peningkatan beban bilirubin tak terkonjugasi anemia hemolitik.

Batu pigmen hitam ini terutama terdiri dari derivat polymerized bilirubin. Potogenesis terbentuknya batu ini belum jelas. Umumnya batu pigmen hitam terbentuk dalam kandung empedu dengan empedu yang steril.

Klasifikasi Menurut gambaran makroskopis dan komposisi kimianya, batu empedu di golongkankan atas 3 tiga golongan : 1. Batu kolesterol. Batu kalsium bilirubinan pigmen coklat Berwarna coklat atau coklat tua, lunak, mudah dihancurkan dan mengandung kalsium-bilirubinat sebagai komponen utama. Batu pigmen hitam. Berwarna hitam atau hitam kecoklatan, tidak berbentuk, seperti bubuk dan kaya akan sisa zat hitam yang tak terekstraksi.

Manifestasi Klinis Batu empedu biasanya terjadi secara tersembunyi karena tidak mengalami rasa nyeri dan hanya menyebabkan gejala gastrointestinal yang ringan. Batu tersebut mungkin ditemukan secara kebetulan pada saat pembedahan atau evaluasi untuk gangguan yang tidak berhubungan sama sekali.

Penderita penyakit kandung empedu akibat batu empedu dapat mengalami 2 jenis gejala : gejala yang disebakan oleh penyakit kandung empedu itu sendiri dan gejala yang disebabkan karena obsruksi pada lintas empedu olem batu ginjal. Gejala bisa bersifat akut atau kronis. Gangguan epigastrium, seperti rasa penuh, distensi abdomen dan nyeri yang samar pada kuadran kanan atas abdomen, dapat terjadi. Gangguan ini terjadi setelah individu mengkonsumsi makanan yang berlemak atau yang digoreng.

Rasa nyeri dan kolik biler. Jika duktus sistikus tersumbat oleh batu empedu, kandung empedu akan mengalami distensi dan akhirnya infeksi.

Pasien akan menderita panas dan mungkin teraba massa padat pada abdomen. Pasien dapat mengalami kolik bilier disertai nyeri hebat pada abdomen kuadran kanan atas yang menjalar ke punggung atau bahu kanan ; rasa nyeri ini biasanya disertai dengan mual muntah dan bertambah hebat dalam beberapa jam setelah makan makanan dalam porsi besar.

Pasien akan membolak-balikkan tubuhnya dengan gelisah karena tidak mampu menemukan posisi yang nyaman. Pada sebagian pasien nyeri bukan bersifat kolik melainkan persisten. Dalam keadaan distensi, bagian fundus kandung empedu akan menyentuh dinding abdomen pada daerah kartilago kosta 9 dan 10 kanan.

Sentuhan ini akan menimbulkan nyeri tekan yang mencolok pada kuadran kanan atas saat pasien melakukan inspirasi dalam, dan menghambat pengembangan rongga dada.

Nyeri pada kolesistitis akut dapat berlangsung sangat hebat sehinggga diperlukan preparat analgesic yang kuat seperti mepiridin. Pemberian morfin dianggap dapat meningkatkan spasme sfinter Oddi sehingga perlu dihindari. Ikterus dapat dijumpai diantara penderita penyakit kandung empedu dengan persenase yang kecil dan biasanya terjadi pada obstuksi duktus koledokus. Obstruksi pengaliran getah empedu kedalam duodenum akan menimbulkan gejala yang khas, yaitu : getah empedu yang tidak lagi dibawa ke duodenum akan diserap oleh darah dan penyerapan empedu ini menyebabkan kulit dan membrane mukosa berwarna kuning.

Gejala ini sering disertai gejala gatal-gatal yang mencolok. Ekresi pigmen empedu oleh ginjal akan membuat warna urin sangat gelap. Obstuksi aliran empedu juga mengganggu absorsi vitamin A, D, E, dan K yang larut lemak. Karena itu pasien dapat memperlihatkan defisiensi vitamin-vitamin ini jika obstruksi bilier berjalan lama. Defisiensi vitamin K dapat mengganggu pembekuan darah yang normal.

Jika batu empedu terlepas dan tidak lagi menyumbat duktus sistikus, kandung empedu akan mengalirkan isinya keluar dan proses inflamasi segera mereda dalam waktu yang relative singkat.

Jika batu empedu terus menyumbat ini bisa menyebabkan abses, nekrosis dan perforasi disertai peritonitis generalisata. Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita kolelitiasis : 1. Obstruksi duktus sistikus 3. Kolesistisis kronis :.

IN5822 FILETYPE PDF

Laporan Pendahuluan Cholelithiasis (Batu Empedu), Download Pdf dan Doc

Leukosit : Amilase serum meningkat. PTC perkutaneus transhepatik cholengiografi : Pemberian cairan kontras untuk menentukan adanya batu dan cairan pankreas. Cholecystogram untuk Cholesistitis kronik : menunjukkan adanya batu di sistim billiar. Foto Abdomen :Gambaran radiopaque perkapuran galstones, pengapuran pada saluran atau pembesaran pada gallblader.

BF494 PDF

LAPORAN PENDAHULUAN CHOLELITHIASIS

Stress emosi, terkejut. Udara dingin, keadaan-keadaan tersebut ada hubungannya dengan peningkatan aktivitas simpatis sehingga tekanan darah meningkat, frekuensi debar jantung meningkat, dan kontraktilitas jantung meningkat. Menurut Trisnohadi, ACS dipengaruhi oleh : 1. Rupture plak Rupture plak dapat menyebabkan terjadinya oklusi subtotal atau total dari pembuluh coroner yang sebelumnya mempunyai penyempitan yang minimal. Terjadinya rupture menyebabkan aktivasi, adhesi dan agregasi platelet dan menyebabkan aktivasi terbentuknya thrombus. Thrombosis dan agregasi trombosit Terjadinya thrombosis setelah plak tergaggu disebabkan karena interaksi yang terjadi antara lemak, sel otot polos dan sel busa yang dalam plak berhubungan dengan ekspresi faktor jaringan dalam plak tak stabil. Vasospasme Diperkirakan ada disfungsi endotel dan bahan vasoaktif yang diproduksi oleh platelet berperan dalam perubahan dalam tonus pembuluh darah dan menyebabkan spasme.

Related Articles