TWO AGES KIERKEGAARD PDF

By itself, this would be an important contribution to our understanding. But the true significance of Between Two Ages lies in his placing this analysis within a profoundly moral and ethical framework. Van Wishard has not simply diagnosed the reasons for our spiritual malaise. He has also suggested how each of us can overcome this malaise and find a larger purpose or meaning to our lives.

Author:Malazuru Zutaur
Country:Canada
Language:English (Spanish)
Genre:Environment
Published (Last):24 August 2010
Pages:378
PDF File Size:20.56 Mb
ePub File Size:20.3 Mb
ISBN:946-2-14231-126-1
Downloads:69696
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Daigami



Kierkegaard atas novel Thomasine Christine Gyllembourg-Ehrensvard berjudul Two Ages, yang dipublikasikan pada 30 Maret , setelah terbitnya karya pseudonim Kierkegaard, J. Climacus, yang berjudul Concluding Unscientific Postscript. Teks ini membahas mengenai tegangan antara era revolusi dan era sekarang.

Era revolusi revolutionary age , lebih spesifik merujuk pada Era Revolusi Prancis, dikatakannya sebagai era yang penuh gejolak dan Two Ages: A Literary Review adalah ulasan dan respons S. Era revolusi revolutionary age , lebih spesifik merujuk pada Era Revolusi Prancis, dikatakannya sebagai era yang penuh gejolak dan dengan gejolaknya itu tetap mempertahankan prinsip-prinsip kontradiksi sehingga yang baik maupun yang buruk tetap dapat terbedakan.

Sementara itu, era sekarang present age —merujuk pada tahun ditulisnya ulasan ini, yakni era modern pasca-Revolusi Prancis tahun —adalah era yang tidak terintegrasi, lantaran era ini menekankan pada penyamarataan yang mengaburkan prinsip-prinsip kontradiksi sehingga media dan publik dapat mendominasi dengan prinsip-prinsip konformitasnya dan mendorong sebanyak-banyaknya individu untuk menanggalkan kediriannya demi terlibat dalam kerumunan orang banyak dan terlibat dalam pergunjingan.

Kierkegaard mengategorikan era saat ini present age sebagai era dengan renjana yang lemah. Padahal, renjana yang lemah adalah penghambat bagi seseorang untuk melakukan sesuatu yang berarti. Berbeda dengan era revolusi yang menampilkan renjana yang hebat dan menurut saya dapat diandaikan seperti kawah gunung yang bergejolak, era modern adalah era yang sangat reflektif dengan renjana yang lemah yang menurut saya dapat dianalogikan layaknya air laut yang tenang, air laut dengan ombaknya yang kehilangan daya, laut yang kehilangan maknanya.

Era ini adalah era ketika orang-orang dapat tenang-tenang saja untuk tidak berbuat apa-apa, dan lebih mementingkan aspek publisitas atau hal yang tampak di permukaan alih-alih kedalaman yang mendorongnya melakukan hal-hal esensial. Salah satu hal dangkal yang Kierkegaard sebutkan terjadi di era sekarang adalah ketergila-gilaan masyarakat atas uang kertas paper money dan transaksi yang menggunakan uang kertas.

Uang adalah objek kehendak the object of desire generasi saat itu. Di era modern, orang-orang amat jarang menaruh rasa cemburu pada kemampuan yang dimiliki oleh orang lain, mereka cenderung hanya tertarik pada uang dan menganggap bahwa hidup mereka telah lengkap hanya dengan mengukur kepemilikan mereka atas setumpuk kekayaan material.

Sebagai era yang tanpa renjana, prinsip yang berlaku adalah transaksi dan sirkulasi uang dan rasa cemburu yang muncul adalah rasa cemburu semata-mata menyangkut kepemilikan atas uang kertas.

Padahal, pada satu titik, di tengah era uang kertas ini pula, suatu saat seseorang akan merasa kosong dan merindukan terdengarnya gemerincing uang koin coin yang jatuh, suatu hal yang lebih primitif seperti halnya hal-hal yang menandai vitalitas hidup, keberadaan orang yang diagungkan, kehadiran cinta, kecemerlangan para pemikir, para ksatria keyakinan, serta orang-orang yang menghargai derajat kemanusiaan.

Dikatakannya pula, era ini membiarkan segala jenis peristiwa berlangsung, tetapi sekaligus melenyapkan makna dari peristiwa-peristiwa itu.

Di tengah kekosongan makna ini, ia menarik kembali arti penting moralitas, yakni karakter yang diperoleh dari kedalaman batin inwardness. Hanya dengan kembali ke dalam batinnya, seseorang dapat memiliki keutuhan diri, kedirian atau individualitas individuality. Sementara itu, era ini justru menekankan bahwa seseorang harus melakukan penyamarataan leveling , yang mengutamakan aspek konformitas. Bagi Kierkegaard, abstraksi dari penyamarataan ini terkait dengan negativitas yang lebih tinggi: kemanusiaan murni—suatu konsep yang agaknya dapat dipandang sebagai utopia.

Penyamarataan, baginya, adalah suatu urgensi dekaden. Pada poin tersebut, prinsip-prinsip egaliter yang diantarkan oleh slogan jurnalisme a la media the press justru mengaburkan keunikan dari individu dan menghilangkan arti penting prinsip kontradiksi the principle of contradiction.

Demi penerimaan oleh orang lain, individu terdorong untuk menyatu bersama kerumunan dan kehilangan jati dirinya di tengah orang banyak the public. Untuk menjaga hubungan dengan orang banyak itu, individu tidak membahas hal-hal yang esensial, yang mirisnya hal ini didukung pula oleh publisitas media dengan borbardir gunjingan, sehingga individu dengan instan kehilangan kediriannya dan turut bergunjing, lantas menjadi penggunjing the chatter.

Baik media maupun orang banyak dikatakan oleh Kierkegaard sebagai hantu phantom. Mereka tak memiliki wujud yang konkret dan hanya berupa abstraksi yang menjadikan setiap individu yang berada dalam kelompok tersebut bukan siapa-siapa nobody. Mereka hanya akan menjadi statistik tanpa karakter. Bahkan, hal ini mendorong ke arah yang lebih abstrak: demi diterima oleh orang banyak, dengan dorongan rasa cemburunya selfish envy , semakin banyak orang akan rela menanggalkan kediriannya untuk menjadi bukan siapa-siapa.

Ia lebih jauh lagi mengeksplor mengenai kemungkinan dari rasa cemburu untuk berubah menjadi kecemburuan etis, dan pada saatnya membuat seseorang kehilangan karakternya principle of characterlessness. Terdapat kesetujuan di tengah masyarakat bahwa penyamarataan dapat berlaku dan menjadi penting bagi berlangsungnya suatu generasi. Kierkegaard memandang, tidak demikian halnya bagi keberadaan individu.

Prinsip persamaan equality yang menghendaki segala hal untuk menjadi egaliter adalah baik apabila ditempatkan pada konteks kemasyarakatan yang tepat. Baginya, tidak seorang pun dapat menghindari era penyamarataan ini lantaran prinsip egaliter ini memiliki daya negatif yang sangat kuat. Oleh karena itu, ia mengajukan bahwa prinsip individualitas the principle of individuality dapat mengatasi hal ini dengan mengembangkan abstraksi atas prinsip persamaan dalam suatu generasi beserta lompatan keyakinan inspired leap of religiousness.

Prinsip individualitas ini dapat mengantarkan seseorang pada kebenaran yang abadi, dan bukan kebenaran yang temporer yang semata-mata ditawarkan oleh refleksi yang stagnan stagnation in reflection. Dengan mempertahankan individualitasnya, seseorang dapat bertahan untuk tetap menjadi konkret. Prinsip individualitas memungkinkan seseorang untuk memiliki karakter dan kedirian yang mencerminkan keunikan-keunikannya sehingga ia tidak dapat direduksi ke dalam statistik belaka. Ia tidak akan menjadi sekadar kerumunan, orang banyak yang tanpa identitas.

Kierkegaard menyebutkan pula bahwa seseorang yang membaca, dan dengan demikian memiliki kesadaran atas dirinya, dapat menghindarkan dirinya dari kesemuan berada di tengah-tengah kerumunan a single individual who reads is not a public. Ketika seseorang memegang prinsip individualitas, di tengah kebisingan orang-orang yang bergunjing, ia akan mampu bergeming silence.

Sikapnya untuk hening di tengah hiruk-pikuk era modern dimungkinkan lantaran ia mampu untuk masuk ke dalam relung batinnya. Poin pentingnya adalah bahwa hanya orang yang dapat bersikap hening di tengah keributan dapat mengatakan hal-hal yang esensial, dan dengan demikian dapat bertindak esensial. Keheningan, yang menunda tindakannya untuk memilah hal-hal yang mencerminkan kepribadiannya, adalah jalan untuk mencapai sesuatu yang ideal. Ia mengandaikannya selayaknya seorang pengarang yang membutuhkan privasi yang merupakan inner sanctum-nya.

Tanggapan Pribadi Pada masa pasca-Revolusi Prancis terutama di tahun-tahun Kierkegaard mengulas novel Two Ages di tahun , saya membayangkan situasi dunia yang mulai mengarah pada upaya-upaya industrialisasi dan bagaimana masyarakat pada masa itu merespons situasi tersebut. Novel Two Ages agaknya menyinggung tokoh-tokoh yang hidup dalam situasi itu. Kierkegaard lebih jauh lagi membandingkan bagaimana kehidupan pada situasi revolusi, kisaran tahun , cenderung berbeda dengan situasi zamannya.

Di zaman dalam rentang setelah Revolusi Prancis hingga Revolusi Eropa di tahun , agaknya individu cenderung dimampatkan dan direduksi sebagai publik. Namun, tampak dalam penjelasan Kierkegaard bahwa setelah renjana revolusioner era revolusi revolutionary age itu meredup, orang-orang di era sekarang present age cenderung bersikap stagnan dan individu-individu di tengah masyarakat itu melebur menjadi publik dan kehilangan kediriannya. Ditemukannya mesin cetak Gutenberg bukan hanya berjasa memperbanyak dokumen-dokumen penting ataupun penyebaran kitab suci, melainkan membuka juga pintu pers dan media cetak, bahkan membantu penyebarluasan pamflet-pamflet yang bisa saja berisikan hal-hal temporer, seperti iklan ataupun publisitas yang intensif atas kehebatan diri sendiri atau kehebatan pihak tertentu.

Di satu sisi, pers juga memiliki dampak positif bagi penduduk Denmark. Pada , terdapat media cetak liberal yang menyalurkan pendapat publik, pers yang sama mendorong adanya gerakan liberal dan nasional Denmark. Sejak pers liberal mulai mengemuka, pada dekade itu kita dapat membayangkan masyarakat Denmark bergerak untuk terlibat dalam Revolusi Eropa Dampak dari revolusi tersebut adalah berubahnya sistem pemerintahan Denmark menjadi monarki konstitusional pada 5 Juni Apabila konteks yang dihadapi oleh Kierkegaard pada ditarik bahkan ke abad milenium ini, agaknya pandangan Kierkegaard masih sangat relevan.

Di era media sosial, kenyataan ini bahkan semakin mencemaskan. Media sosial bekerja dengan prinsip egaliter, di mana posisi setiap orang ditempatkan setara dan kesetaraan itu leveling dalam kasus tertentu bersifat mutlak, misalnya penggunaan Facebook atau Twitter dan media sosial sejenisnya yang menerapkan asas kesamaan equality dengan tidak mementingkan apakah penggunanya adalah seorang presiden ataukah tukang bersih kamar mandi.

Dengan demikian, media sosial menafikan adanya prinsip kontradiksi principle of contradiction. Dalam situasi ini, setiap orang dapat membagikan apa saja yang ada di pikirannya bahkan pada setiap detik dan bergunjing tentang apa saja chattering.

Setiap orang yang terlibat dalam media sosial bisa secara instan kehilangan kediriannya lantaran bergumul dengan sekian banyak peristiwa yang dipergunjingkan orang-orang di sekitarnya dalam lini massa media sosial di internet. Saya melihat urgensi prinsip individualitas principle of individuality dan sikap hening silence yang dipaparkan oleh Kierkegaard untuk mengatasi gelombang informasi di media massa yang tak terbendung bagaikan air bah. Pertanyaan yang mengemuka kemudian adalah: hal apa yang perlu dikembangkan oleh seseorang di zaman ini untuk memiliki kesadaran akan pentingnya prinsip individualitas dan sikap hening?

Pertanyaan ini mengantarkan saya pada poin-poin kunci dalam teks-teks pseudonim Kierkegaard terdahulu yang memaparkan tentang pilihan-pilihan yang dihadapi oleh seseorang dalam hidupnya, jenis-jenis kebenaran dan bagaimana cara mencapainya, bahwasanya kebenaran adalah subjektivitas dan kebenaran yang diyakini tersebut harus diapropriasikan dalam hidup sehari-hari. Saya kira seseorang perlu menggali ke kedalaman dirinya untuk menemukan subjektivitasnya dan mengapropriasikannya bagi dirinya untuk kemudian dapat memahami prinsip individualitas dan dapat bersikap hening, suatu sikap yang memungkinkannya untuk menyampaikan hal-hal yang paling esensial, dan melakukan tindakan-tindakan yang benar-benar penting.

Referensi Hong, Howard V. Hong eds. New Jersey: Princeton University Press. Olson, Kenneth E. The history makers: The press of Europe from its beginnings through Louisiana: Louisiana State University Press.

This work I felt to be very timely and appropriate, remaining valid through the centuries in its description of the so-called Present Age, so overburdened with constant reflection without true action, as opposed to the Revolutionary Age, which attempts to lay everything aside and simply DO. It was a kind of helpful interpretive lens. I sat down today to read it again and felt it even more prescient.

DUFAY AVE REGINA CAELORUM PDF

Two Ages: The Age of Revolution and the Present Age A Literary Review

This work technically appeared after he had declared a formal end to his authorship, and was the second review that Kierkegaard wrote—the first being From the Papers of One Still Living. Although it was published under his own name, he actually did much of the writing in during what has been called his indirect, pseudonymous period , months before the Concluding Unscientific Postscript was published, which contained an addendum that revealed his pseudonymous authors. The author had been the wife of P. Heiberg for what was a brief marriage. Her son, J. Heiberg, who was a great literary figure in Denmark, published the work. The first part quickly reviews the story.

DOKTRYNA SZOKU CHOMIKUJ PDF

Communication between Two Ages. Kierkegaard, McLuhan, and Problems of Hermeneutics

Kierkegaard atas novel Thomasine Christine Gyllembourg-Ehrensvard berjudul Two Ages, yang dipublikasikan pada 30 Maret , setelah terbitnya karya pseudonim Kierkegaard, J. Climacus, yang berjudul Concluding Unscientific Postscript. Teks ini membahas mengenai tegangan antara era revolusi dan era sekarang. Era revolusi revolutionary age , lebih spesifik merujuk pada Era Revolusi Prancis, dikatakannya sebagai era yang penuh gejolak dan Two Ages: A Literary Review adalah ulasan dan respons S. Era revolusi revolutionary age , lebih spesifik merujuk pada Era Revolusi Prancis, dikatakannya sebagai era yang penuh gejolak dan dengan gejolaknya itu tetap mempertahankan prinsip-prinsip kontradiksi sehingga yang baik maupun yang buruk tetap dapat terbedakan. Sementara itu, era sekarang present age —merujuk pada tahun ditulisnya ulasan ini, yakni era modern pasca-Revolusi Prancis tahun —adalah era yang tidak terintegrasi, lantaran era ini menekankan pada penyamarataan yang mengaburkan prinsip-prinsip kontradiksi sehingga media dan publik dapat mendominasi dengan prinsip-prinsip konformitasnya dan mendorong sebanyak-banyaknya individu untuk menanggalkan kediriannya demi terlibat dalam kerumunan orang banyak dan terlibat dalam pergunjingan. Kierkegaard mengategorikan era saat ini present age sebagai era dengan renjana yang lemah.

BUKU AKOMODASI PERHOTELAN JILID 2 PDF

TWO AGES KIERKEGAARD DOWNLOAD

Jump to navigation Jump to search Not to be confused with Contemporary history. There is no more action or decision in our day than there is perilous delight in swimming in shallow waters. The concepts are still used, but are drained of all meaning by virtue of their detachment from a life view which is passion-generated and produces consistent action. He attacks not only the Press but the Public it serves in this book. He is against abstract moments in time or public opinion as a basis for forming relationships. He wrote about the single individual in his Eighteen Upbuilding Discourses and kept to that category here. Newspapers were mediating information and individuals were joining together based on this mediating influence.

Related Articles